Pengusaha Truk dan Logistik Risau dengan Tarik Ulur Libur Lebaran

0
Kemacetan antrian truk - dok.istimewa

Jakarta – Pengusaha angkutan truk dan logistik mengkhawatirkan biaya logistik akan membengkak terkait dengan penambahan hari libur lebaran.Keresahan semakin bertambah karena pemerintah sendiri saat ini masih tarik ulur dalam penetapan kebijakan tersebut.

Menurut Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) bidang Distribusi dan Logistik, Kyatmaja Lookman tambahan liburan itu menjadikan perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar lembur. Sebab, orang akan memilih libur dan tak bekerja karena memang hari libur.

“Kalau soal pengaturan operasi truk, tahun ini kan lebih baik. Sudah mengalami kemajuan, tetapi yang jadi masalah itu kan libur, apakah ada orang yang mau kerja? Kalau lembur tenu ada ongkos ekstra,” tuturnya saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (1/5/2018).

Pernyataan senada diungkapkan oleh seorang pengurus Asosiasi Logistik Indonesia (ALI). Dia menyebut, dengan belum ditetapkannya secara pasti menjadikan perusahaan logistik, pabrikan, atau perusahaan sektor lain terombang-ambing menetapkan stok.

“Kalau tetap beroperasi di saat libur kan harus membayar lembur. Itu pun kalau ada yang mau kerja. Kan emang liburan. Jadi ada extra cost. Biaya logistik jadi lebih mahal,” ucapnya.

Sebelumnya, pemerintah telah menetapkan penambahan cuti lebaran tersebut dalam surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri. Keputusan yang diteken oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN RB), Menteri Tenaga Kerja, dan Menteri Agama itu menetapkan penambahan cuti bersama.

Tambahan cuti dua hari sebelum Lebaran yaitu 11 – 12 Juni 2018, serta 1 hari setelah Lebaran, yaitu pada 20 Juni 2018. Dengan demikian total cuti tujuh hari yakni 11, 12, 13, 14, 18, 19, dan 20 Juni 2018. Namun, ketetapan ini akan direvisi. (Abs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here