Dirjen Kominfo Publik: 92,6% Berita Hoax Berasal dari Media Sosial

0
Hoax, media sosial, berita bohong, minat baca, buku

Padang – Direktur Jenderal Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika , Rosarita Niken Widiastuti menyebut 92,6% sumber berita hoax berasal dari media sosial. Kebebasan pers di media sosial telah dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan tertentu.

“Dengan dalih kebebasan itulah, akhirnya kebebasan diartikan abebas-sebebasnya tanpa aturan, tanpa etika sama sekali,” tuturnya saat diskusi publik bertema “Hantam Hoaks Dengan Keterbukaan Informasi” di peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Padang, Sumatera Barat, Kamis (8/2).

Menurutnya, saluran berita hoax tersebut terbanyak dalam wujud tulisan, yakni 62%. Kemudian disusul gambar yang sebanyak 37,50%, video 0,40%. Sedangkan dilihat dari salurannya, terbanyak adalah situs website yakni 34,9%, kemudian televisi 8%, media cetak 5%, email 3,1%, radio 1,2%, dan lainnya.

BACA: WhatsApp Uji Coba Fitur ‘Penghadang’ Viralnya Pesan Berantai Hoax

Data Kemenkominfo menunjukan, dalam setiap satu menit 168 juta email beredar. Kemudian 695.000 status facebook bermunculan. Di saat yang sama, 98 ribu cuitan twitter terlihat.

“Itu semua, kegiatan penyampaian informasi yang beredar dan tersebar dari orang ke orang dari grup ke grup dan lainnya,” ujar Rosarita.

Mudahnya masyarakat terpengaruh berita-berita hoax, kata Rosarita,  karena minimnya minat baca mereka. Minat baca orang Indonesia berada di rangking 60 dari 61 negara.

BACA: Kemkominfo Ancam Blokir Google Jika Tak Hapus 75 Aplikasi Bermuatan LGBT

Setiap tahunnya orang Indonesia hanya membaca 27 lembar atau hanya 2 lembar saban bulan. Oleh karena itulah, masyarakat akan dengan mudah percaya dengan berita-berita di media sosial tanpa ingin melakukan perbandingan atau crosscheck.

“Jadi seperti apa berita-berita yang beredar di media sosial itu,” ucapnya.

Kurangnya minat membaca, lanjut Rosarita, terkait dengan keaktifan di media sosial. Karena masyarakat lebih menyukai media sosial, mereka semakin malas membaca buku atau sumber literatur.

Walhasil, tak aneh jika kemudian beredar marak berita hoax di masyarakat yang bersifat ujaran kebencian. (Ula/Kontributor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here