Jenderal Gatot: Marsekal Hadi Mampu Kawal Pilkada 2018 dan Pilpres 2019

0
Marsekal Hadi Tjahjanto - dok.Sumber.com

Jakarta – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menilai langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah tepat menunjuk Marsekal Hadi untuk menggantikannya.Dia juga yakin Hadi bakal mampu mengawal Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019 mendatang.

“Kami yakin Pak Hadi mampu memimpin khususnya menghadapi tahun politik 2018 dan 2019,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (6/12).

Menurutnya, Hadi paham soal konstelasi politik terutama setelah Pilkada DKI yang tensinya cukup tinggi. “Kemudian sekarang Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatra Selatan, Sumatra Utara bahkan Papua. Saya yakin Pak Hadi sangat paham itu,” ungkapnya.

Sedangkan Jokowi dinilai tepat karena memilih diantara Kepala Staf Angkatan yang ada. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Mulyono dan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Ade Supandi akan memasuki masa pensiun pada 2019 mendatang.

Sementara, mayoritas fraksi di DPR telah menyatakan dukungannya terhadap hadi. Adapun Hadi sendiri dalam paparannya di hadapan DPR menyatakan perlunya perhatian serius terhadap perkembangan teknologi, informasi, komunikasi dan transportasi.

Menurutnya, ketiga hal itu akan mengubah model interaksi yang paling hakiki antar manusia atau antar negara. Dia menilai dampak perubahan besar itu telah memunculkan bentuk-bentuk friksi.

“Atau bahkan konflik baru yang berbeda dari apa yang pernah ada sebelumnya,” paparnya.

Kondisi ini, lanjutnya, bisa memunculkan fenomena-fenomena baru yang dengan sendirinya mengubah perspektif ancaman terhadap pertahanan negara.

“Karena itu, untuk menghadapi kondisi tersebut, TNI masih perlu mentransformasi diri dari suatu organisasi pertahanan negara yang profesional modern dan tangguh,” ujarnya.

Agar bisa mewujudkan TNI seperti semangat transformasi ini, dibutuhkan payung hukum yang kuat, penyesuaian doktrin yang integratif, pengembangan SDM berjiwa kesatria militan, loyal dan profesional yang dilengkapi alutsista yang modern.

“Dengan demikian, bisa melaksanakan tugasnya dengan baik sebagaimana yang diamanatkan oleh konstitusi,” terangnya.

Hadi juga memaparkan tentang lima potensi ancaman yang sangat otensial. Kelimanya adalah dampak tatanan dunia baru, kerentanan terorisme, perang siber, kemajuan Cina (China Charm Offensive), serta kerawanan keamanan di laut perbatasan.

Sementara, situasi yang terjadi semakin kompleks. Arus globalisasi informasi yang semakin tidak mungkin dibendung juga memunculkan kerawanan digunakan sebagai saluran infiltarsi pelaku teror dan terorisme.

“Melalui berbagai medsos dan jaringan media internet lainnya, host dari kelompok teroris telah mampu secara cepat menyebarkan pengaruh dan bahkan mengaktifkan sel tidur atau pun simpatisannya di seluruh dunia demi mendukung kepentingannya,” ungkapnya. (Abs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here